Bagi para petani, hama adalah musuh terbesar mereka selain cuaca. Hama mampu menghancurkan tak hanya buah melainkan pohon dan akar. Hal ini tentunya mengakibatkan kerugian yang sangat besar karena bukan saja persoalan hasil panen tetapi begitu pula dengan benih. Dengan demikian, hama harus diberantas dengan cara apapun bahkan para petani menggunakan senjata kimia untuk memenangkan peperangan ini.
![]() |
| Ulat hijau kubis menyerang daun kubis (sumber gambar dari ruangtani.com) |
Persoalan hama ini juga yang menyerang pertanian dan perkebunan di wilayah Amerika Serikat. Namun, bagi para ahli kesehatan dan gizi di Amerika Serikat menganggap penggunaan bahan-bahan kimia untuk memberantas hama justru memunculkan persoalan di masa depan. Oleh karenanya diperlukan sebuah metode baru yang menguntungkan dan jauh dari kontaminasi bahan-bahan kimia yang berbahaya. Entomologis dari Universitas Cornell mendapatkan jawaban tersebut, ya berantas hama dengan hama
Hama ulat kubis di tanaman
Salah satu jenis hama yang menyerang tanaman buah-buahan dan sayuran di Amerika Serikat adalah ngengat kubis atau diamondback moth. Hama jenis ini menyerang sayuran kubis pada fasa ulat. Di Indonesia, hama jenis ini dikenal dengan ulat daun kubis yang mampu memakan dedaunan kubis hingga habis. Oleh karenanya, para petani mengalami kerugian setiap musim panennya.
Ulat daun kubis dalam bahasa latinnya adalah Plutella xylostella yang berwarna hijau dengan ukuran kepala tampak hitam. Masa larvanya berkisar antara tujuh sampai sebelas hari dan setiap ekornya mampu menghabiskan daun kubis hingga tulangnya saja. Bagi para petani, jika satu kubis hanya dihuni oleh satu ekor ulat daun, mungkin mereka dapat mentolerirnya. Akan tetapi, ulat plutella justru ditemukan berkisar 5-10 ekor di setiap 10 tanaman sehingga memperbesar kerugian yang didapat.
Umumnya, pengendalian hama ulat hijau kubis ini dilakukan dengan tiga cara, yaitu dengan menanam pada waktu yang tepat yaitu sesuai dengan kondisi lingkungan, penggunaan konsumen parasite seperti larva diadegma, dan yang terakhir adalah dengan menggunakan insektisida. Akan tetapi, ketiga metode ini tidak efektif karena hama jenis ini melakukan proses reproduksi dengan siklus waktu yang cukup cepat. Sehingga populasinya perlu ditekan agar tidak terjadi pembludakan melalui cara rantai makanan tersebut.
Solusi hama ulat kubis melalui rekayasa genetika
Ilmuwan dari universitas Cornell mengembangkan teknologi rekayasa genetika pada ngengat kubis ini. Dikenal dengan istilah lady-killers, yaitu pejantan yang genetikanya sudah direkayasa sehingga tidak berdampak buruk baik pada lingkungan maupun kesehatan tubuh manusia. Dilansir oleh curiosity.com, pejantan dari ngengat kubis ini mampu menekan jumlah anakan dari si ngengat sehingga dapat menekan populasi ulat hijau kubis.
Sebenarnya, di Indonesia, tidak ada hama ulat hijau kubis karena ia berasal dari benua Eropa. Namun, seperti hama-hama lainnya, mereka dapat melakukan ekspansi wilayah ke berbagai benua termasuk Asia, Amerika dan bahkan Australia.
Kembali dengan entomologis dari Universitas Cornell tadi, pejantan ini mampu menekan populasi ulat hijau kubis karena gen-gennya yang berbeda. Ketika proses reproduksi, para pejantan yang sudah direkayasa gennya melakukan perkawinan gennya diteruskan ke anakan. Tentunya, anakan dari hasil pembuahan lahir dalam bentuk telur, diteruskan menjadi larva, kepompong dan diakhiri menjadi ngengat. Lantas bagaimana proses penekanan populasinya?
Jawaban tersebut berada pada fasa larva atau ulat. Gen yang telah direkayasa menunjukkan bahwa, setiap anakan yang lahir dari pejantan tersebut akan mati pada proses pendewasaan yaitu pada fasa ulat. Hal ini telah dibuktikan melalui percobaan yang disetujui oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat. Oleh karenanya, dengan adanya pejantan jenis ini tentunya merupakan sebuah solusi yang cerdas untuk beberapa tahun ke depan karena alam dapat menjawab tantangannya salah satunya dengan evolusi. Meskipun demikian, hal ini patut untuk diapresiasi dan dicoba.



0 Comments