Mustahil memang jika kita perhatikan secara seksama bahwa ada tanda-tanda kehidupan di Encelandus, nama yang disematkan untuk bulannya Saturnus. Kondisi ekstrim menyelimuti wilayah Encelandus karena tertutupi padatan es. Bahkan di siang hari, temperaturnya sekitar 198 derajat celsius di bawah nol. Memang mustahil adanya kehidupan, tetapi penemuan terbaru menunjukkan hal yang berlawanan.
![]() |
| Permukaan Encelandus yang tertutupi es secara keseluruhan (Gambar didownload dari www.saturn.jpl.nasa.gov) |
Memang, hidrogen molekuler yang muncul di Encelandus berbentuk plume atau gumpalan awan dan ini membuktikan adanya reaksi hidrotermal. Menurut ilmu kimia, sistem hidrotermal ini melibatkan proses derivatif hidrogen dari reduksi mineral besi dan umumnya ketika mencapai titik keseimbangan reaksi ini bercampur dengan oksidan di sistem. Proses selanjutnya berupa ketidakseimbangan umumnya dimanfaatkan oleh beberapa mikroorganisme agar mampu menghasilkan metana melalui gas hidrogen. Proses pengubahan karbon dioksida menjadi metana ini disebut dengan methanogenesis.
Peristiwa alamiah yang terjadi di bumi tersebut juga terjadi di Encelandus, mengindikasikan adanya proses tersebut juga. Satelit Cassini yang saat ini mengorbit di Encelandus mendeteksi kemungkinan adanya reaksi termodinamis berupa ketidakseimbangan dari adanya gugusan awan plume. Awan ini juga yang meningkatkan probabilitas dari kemungkinan adanya metana yang berarti ada makhluk hidup yang memainkan peran konversi ini.
Gas Hidrogen di Encelandus
Misi Cassini sendiri merupakan kerjasama riset antara badan antariksa Amerika Serikat, Uni Eropa dan Italia. Dengan misi mempelajari kondisi geologis Saturnus terkhususnya Encelandus, Cassini menemukan bahwa bulan ini memiliki jumlah hidrogen yang berlimpah. Seperti yang dilansir oleh situs www.space.com, Encelandus memiliki kandungan carbon dioksida sebanyak 0,3 sampai 0,8 persen meskipun permukaannya tertutup es secara keseluruhan.
Meskipun demikian, banyaknya gas hidrogen juga belum tentu menyatakan adanya potensi kehidupan. Namun, seperti yang dijelaskan di atas adalah kemungkinan gugus awan erupsi dari Encelandus berpotensi mengandung gas metana yang secara hidrotermal tidak mungkin dapat terbentuk tanpa adanya kehadiran mikroorganisme methanogenesis. Akan tetapi, adanya gas hidrogen yang berlimpah ini mengindikasikan bahwa Encelandus merupakan salah satu tambang energi di alam semesta.
Hingga saat ini, Cassini masih menjalankan misi untuk mendapatkan data-data terbaru dari proses observasinya. Misi Cassini juga menemukan adanya temuan baru berdasarkan proses hidrotermal yang baru-baru ini terjadi.
Perairan Air Asin di Encelandus
Proses hidrotermal menghasilkan sebuah proses kimia yang menghasilkan larutan. Proses ini juga menghasilkan mineral-mineral alkali sehingga berpotensi untuk terciptanya golongan alkali tanha. Seperti yang kita ketahui pelepasan material akan menciptakan pengendapan sebagai bentuk reaksi sama dengan aksi. Sehingga, pengendapan akan menciptakan mineral salah satunya adalah garam. Senada dengan website resmi Cassini, www.saturn.jpl.nasa.gov bahwa ada tiga poin mengenai Encelandus:
- Encelandus tertutup es namun menunjukkan adanya lautan yang tertutupi dan secara keilmuan berpotensi menjadi salah satu destinasi yang menarik
- Penemuan Cassini tentang adanya proses hidrotermal di daratan tertutup es Encelandus berimplikasi pada proses kejadian alam yang terjadi di kutub utara
- Seluruh permukaannya yang tertutup menciptakan kondisi unik baik secara fisika dan kimiawi. Yaitu, adanya proses kimiawi dan penyimpanan energi yang tertutup sehingga berpotensi munculnya kehidupan
[1] Waite et. al., Cassini finds molecular hydrogen in the Encelandus plume: Evidence for hydrothermal processes. Science 356, 155 - 159 (2017)
[2] www.space.com



0 Comments