Penulis: Dendy DwiRizky
Pada zaman dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini, bidang medis semakin berkembang dan terus menemukan teknologi – teknologi baru yang berkaitan dengan perawatan dan pengobatan. Salah satu metode pengobatan terbaru dan termutakhir adalah dengan terapi ozon. 

Pemanfaatan ozon dalam bidang medis dewasa ini sudah dikembangkan di beberapa negara dengan penggunaan terbatas, termasuk Amerika Serikat. Bahkan sudah dibentuk Komite Saintifik Internasional untuk Terapi Ozon (International Scientific Committee on Ozonotherapy ) pada tahun 2010 di Madrid. Terapi ozon merupakan metode perawatan yang memadukan pengobatan sekaligus detoksifikasi pada waktu yang sama. Terapi ozon berguna dalam membantu pengobatan pada berbagai penyakit seperti mengaktifkan sistem imun pada penyakit infeksi, pengoptimalan kerja sel dengan oksigen yang dapat mereduksi iskemia pada penyakit jantung, diabetes, hepatitis kronis, Chron’s disease, bahkan dapat merilis growth factor yang dapat menstimulasi perbaikan sendi yang rusak.

Jika kita kilas balik ke belakang, kata ozon sendiri berasal dari istilah Yunani, ozein yang berarti odor atau bau. Kemudian istilah ini digunakan oleh Schonbein, seorang ahli kimia dari Jerman pada tahun 1840 sebagai subjek penelitiannya mengenai electrical discharge dan pada tahun 1932, ozon diteliti oleh komunitas saintis untuk desinfektan melalui air yang mengandung ozon (ozonated water). Kemudian, penggunaan ozon pada bidang medis sendiri pertama kali dilakukan pada sekitar tahun 1950-an di Jerman pada saat Perang Dunia I untuk mengobati luka infeksi dan gangren pasca trauma. Fisikawan Jerman, Joachim Hansler bersama seorang dokter Jerman, Hans Wolff melakukan terobosan besar dengan menemukan ozoniser untuk bidang medis.

Ketika kita membahas tentang terapi ozon, lantas apakah yang terlintas di kepala Anda adalah ozon yang terdapat pada atmosfer? Tentu tidak, pada udara bebas ozon atmosfer dapat bereaksi dengan emisi yang berasal dari alam dan industri dengan bantuan panas dan sinar matahari, produk dari reaksi ini akan sangat berbahaya bagi kesehatan khususnya pernafasan. Namun, bukan ozon tersebut yang berbahaya untuk paru-paru, melainkan produk toksik yang dihasilkan dari reaksi ini. Dan ketika sistem pernafasan kita menghirup terlalu banyak produk ini, tubuh kita memiliki respon alamiah untuk mensinyalir adanya ozon yang berlebih, yaitu melalui batuk. Batuk menjadi “alarm” ketika paru-paru Anda menghirup terlalu banyak agen toksik yang berasal dari reaksi ozon dengan emisi alam.

Dalam hal ini, ozon dapat berbahaya dan dapat juga tidak berbahaya, tergantung pada dosisnya. Terapi ozon dapat menyembuhkan penyakit jika diberikan dalam dosis yang tepat. Hal ini disebabkan karena ozon dapat menyebabkan oksidasi jika dosis yang diberikan berlebihan, dan juga dapat berfungsi sebagai antioksidan jika diberikan dengan dosis yang tepat. Cara kerja gas ozon sebagai terapi medis mirip dengan kerja Vitamin C, dapat berfungsi sebagai oksidan dan juga dapat berfungsi sebagai antioksidan, bergantung pada dosis yang digunakan. Berbicara mengenai dosis ozon yang tepat, persentase molekul yang digunakan adalah O2 dengan rasio 95 hingga 99,95% dan rasio 03 sebanyak 0,05 hingga 0,5%. (Gopalakhrisnan & Parthiban, 2012).

Lantas, apakah terapi ozon ini sudah dikembangkan pada bidang kedokteran gigi? Selama beberapa dekade, terapi ozon juga sudah dijadikan subjek penelitian pada bidang kedokteran gigi khususnya untuk perawatan gusi. Terdapat tiga cara atau sistem untuk membawa gas ozon ke dalam jaringan yang akan disembuhkan; (1) melalui sistem Ultraviolet, cara ini akan memproduksi ozon dalam konsentrasi rendah dan banyak digunakan untuk keperluan estetik, sauna dan pemurnian air, (2) Sistem Cold Plasma, menggunakan udara dan air yang telah dimurnikan, (3) Corona Discharge System, sistem ini akan memproduksi ozon dengan konsentrasi yang tinggi. Pada bidang kedokteran gigi, cara yang paling sering digunakan untuk terapi ozon adalah cara ketiga. Terapi ozon pada bidang kedokteran gigi dilakukan pada beberapa perawatan seperti perawatan lubang gigi, sterilisasi kavitas lubang gigi, perawatan saraf (saluran akar), perawatan periodontal (jaringan pendukung gigi), penanganan gigi sensitif, dan pada periimplanitis.

Pengobatan menggunakan ozon pada kedokteran gigi dikhususkan pada perawatan pada penyakit gusi yang disebut periodontitis, yaitu peradangan yang terjadi pada jaringan pendukung gigi seperti gusi, ligamen periodontal, tulang alveolar yang menyokong gigi dan beberapa jaringan pendukung lainnya. Periodontitis secara klinis dapat menyebabkan gusi berwarna merah, mudah berdarah, dan gigi goyang. Periodontitis ini merupakan penyakit yang multifaktorial, namun yang berperan utama dalam proses terjadinya penyakit ini adalah mikroorganisme atau bakteri. Pada penelitian dengan air yang mengandung ozon (4 mg/L) ditemukan terdapat efek antimikrobial yang efektif dalam membunuh bakteri gram positif dan gram negatif, serta jamur Candida albicans yang terdapat pada rongga mulut. (Benita, 2014)

Cara kerja air yang mengandung ozon dalam perawatan periodontitis secara biologis adalah dengan efek antimikrobial, stimulasi sistem imun, dan efek antihipoksia. Antimikrobial sendiri berarti ozon bekerja menghancurkan bakteri, jamur dan virus. Efek ini bekerja dengan cara merusak membran sitoplasma pada bakteri melalui proses oksidasi komponen lipid dan lipoprotein. Namun, mekanisme kerja ozon ini bekerja secara selektif sehinga yang diserang hanya sel bakteri, bukan sel pada tubuh manusia. Pada penelitian yang dilakukan oleh Nagayoshi, dkk. mikroorganisme yang terdapat pada rongga mulut dipaparkan dengan air yang mengandung ozon dengan berbagai konsentrasi.

Hasil yang didapat adalah penurunan kelangsungan hidup pada bakteri Streptococcus mutans sebanyak 58% setelah dipaparkan dengan air yang mengandung ozon dengan konsentrasi 0.5mg/l selama sepuluh detik, dan Streptococcus mutans akan mengalami kematian secara spontan apabila dipaparkan dengan air berozon dengan konsentrasi 2 – 4 mg/l. Hal yang sama juga terjadi pada kelangsungan hidup beberapa bakteri lain seperti Streptococcus sobrinus, Streptococcus sanguis, Streptococcus salivarius. Kemudian, dilakukan juga uji coba yang sama terhadap bakteri gram negatif pada rongga mulut yang juga menjadi penyebab utama periodontitis yaitu Porphyromonas gingivalis, Porphyromonas endodontalis dan Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Sama seperti uji coba terhadap bakteri sebelumnya, bakteri – bakteri anaerob tersebut juga mengalami penurunan kelangsungan hidup yang cukup signifikan.

Selain efek antimikrobial, air yang mengandung ozon juga dapat menstimulasi sistem imun. Ozon akan menstimulasi proliferasi dari sel imunokompeten (limfa) dan pembentukan immunoglobulin (antibodi), serta merangsang pembentukan sitokin-sitokin inflamasi seperti interleukin dan prostaglandin yang berguna untuk meredakan peradangan dan penyembuhan jaringan pada gusi. Ozon yang berfungsi sebagai transporter oksigen di dalam darah juga akan mengubah metabolisme sel pada darah menjadi lebih sehat dan kaya oksigen serta mencegah hipoksia. (Nagayoshi & Fukuizumi, 2004)

Terapi ozon juga dapat diaplikasikan pada ranah bedah mulut, yaitu memengaruhi metabolisme perbaikan tulang pada pasien yang mengalami osteomielitis rahang kronis. Pada perawatan nekrosis tulang atau pada perawatan pasca pencabutan gigi yang menggunakan terapi ozon juga dapat menstimulasi proliferasi sel dan perbaikan jaringan lunak dengan cepat.

Namun, tahukah Anda bahwa terapi ozon juga memiliki beberapa kontraindikasi? Jika Anda memiliki beberapa keadaan di bawah ini, maka Anda harus lebih berhati-hati dan dapat memilih alternatif perawatan yang lain. Adapun kontraindikasi dari terapi ozon adalah :
  • Pada ibu hamil
  • Pasien hipertiroid
  • Anemia yang berat
  • Myastemia yang berat
  • Pasien dengan kelainan perdarahan yang parah
Pada saat ini, penggunaan terapi ozon pada bidang kedokteran gigi masih dalam tahap penyempurnaan, hal ini ditunjukkan dengan pemakaian terbatas alat terapi ozon tersebut pada beberapa negara maju. Beberapa ozon generator yang hari ini telah dijual secara komersil untuk kedokteran gigi seperti CurOzone oleh, HealOzone oleh KaVo Dental, dan OzonyTron oleh MYMED. Hanya beberapa dari generator ozon ini yang telah masuk dan digunakan di Indonesia. Kedepannya, penggunaan alat ini untuk pengobatan dan perawatan penyakit – penyakit gigi atau gusi diharapkan dapat menjadi salah satu metode yang efektif. []

Referensi
[1] Benita, P. (2014). Ozone therapy - A new approach in periodontal management 13.
[2] Gopalakhrsinan, & Parthiban. (2012). Ozone - A new revolution in dentistry. journal of bio innovation. 58-69.
[3] Nagayoshi, M., & Fukuizumi, T. (2004). Efficacy of ozone on survival and permeability of oral microorganisms.