Pengambilan keputusan merupakan sifat utama pemikiran. Ada beberapa cara dalam mengambil keputusan yang saat ini dilakukan oleh masyarakat, umumnya bagi suatu kelompok yaitu mekanisme suara terbanyak dan kesepakatan. Akan tetapi, bagi para individu mengambil sebuah keputusan merupakan hal yang krusial karena mereka harus mempertimbangkan setiap aspek yang berkaitan. Bahkan ada yang tidak relevan sama sekali menjadi bahan pertimbangan.
Salah satunya adalah ketika keputusan yang diambil tidak sesuai dengan realita. Menariknya, para individu lain menyatakan sikap tidak menerima ketidaksesuaian ini diubah menjadi cara berpikir ideal atau idealism. Meskipun demikian, beberapa dari individu tersebut pun menyerah dan berputus asa yang mengakibatkan keluar dari struktur sosial. Alasan ingin menenangkan hati dan perasaan merupakan sebuah bentuk ketidakterimaan seseorang terhadap perencanaannya.
Riset terbaru menyatakan bahwa, keputusasaan dapat membawa individu untuk mempercayai peristiwa konspirasi dan bertakhyul (mengada-ada). Penelitian yang dilakukan oleh Damaris Graeupner dan Alin Coman dari departemen Psikologi, Universitas Princeton, Amerika Serikat ini menggunakan analisis deskripsi peristiwa sosial (social event description) pada konspirasi dan takhyul. Para peneliti menggunakan parameter tendensi/ keinginan untuk mengetahui korelasi keduanya memiliki hubungan. Sehingga, didapat implikasi dari kedua keadaan ini terhadap interaksi sosial di masyarakat dan mencari solusi untuk mengatasi keadaan ini.
Studi ini menyertakan 120 partisipan untuk mengikuti empat fase berupa:
- Pertama, menjelaskan peristiwa tidak menyenangkan yang baru-baru saja terjadi disebabkan oleh teman-teman dekat disebut dengan social event description
- Selanjutnya, partisipan diinstruksikan untuk mengekspresikan emosionalnya dalam bentuk 14 ekspresi dan partisipan memberikan skala emosinya dari sedikit(1) menuju sangat(2) emosional disebut dengan emotional evaluation phase
- Partisipan diinstruksikan untuk menyelesaikan kuesioner mengenai arti/ tujuan kehidupan disebut meaning in life questionnaire
- Dan yang terakhir ialah partisipan ditanyai kecenderungannya untuk mempercayai (skala tidak percaya sampai sangat percaya) tiga teori konspirasi
Seperti yang dilansir dari situ universitas princeton, Alin Coman yang merupakan co-penulis, menyatakan bahwa seseorang terasing dan diasingkan akan berpikir mengapa mereka dikenakan sanksi yang akhirnya akan menyalahkan dirinya sendiri. Ketidakstabilan secara mental akan membawa mereka sangat mudah percaya dengan teori-teori konspirasi dan cerita-cerita takhyul. Selanjutnya, tempat nyaman untuk mengutarakan opini sehingga memperbesar keyakinan mereka terhadap kedua hal tersebut/ AF.
Referensi
[1] Damaris Graeupner, Alin Coman. The dark side of meaning-making: How social exclusion leads to superstitious thinking. Journal of Experimental Social Psychology. Article in Press. http://dx.doi.org/10.1016/j.jesp.2016.10.003
[2] Gambar didownload dari https://image.slidesharecdn.com/



0 Comments